Reportase Pelatihan Tahap II: Pelatihan Penulisan Penelitian Kebijakan Kesehatan Berbasis Data Sekunder di DaSK (Masalah KIA dan Gizi)

Reportase

Reportase Pelatihan Tahap II: Pelatihan Penulisan Penelitian Kebijakan Kesehatan Berbasis Data Sekunder di DaSK (Masalah KIA dan Gizi)

Selasa, 6 Oktober 2020

Pada Selasa (6/10/2020) telah diselenggarakan pelatihan Tahap II: Pelatihan Penulisan Penelitian Kebijakan Kesehatan Berbasis Data Sekunder di DaSK untuk Masalah KIA dan Gizi. Sesi ini merupakan hari kedua dari total 2 hari pelatihan. Pelatihan berlangsung pada pukul 10.00 – 12.15 WIB di Gedung Litbang, FK – KMK UGM dan disiarkan melalui zoom meeting. Pelatihan tahap II ini memiliki 4 tujuan utama.

Tujuan pertama agar peserta dapat mengembangkan kemampuan sebagai akademisi dan peneliti dalam penelitian kebijakan kesehatan berdasarkan metode dari ilmu sosial dan politik. Kedua, supaya peserta memahami proses penyusunan kebijakan kesehatan di berbagai topik prioritas. Ketiga, agar peserta dapat menyusun penelitian kebijakan untuk berbagai masalah kesehatan prioritas (KIA, Gizi, CVD dan Kanker). Keempat, agar peserta dapat memanfaatkan data yang telah tersedia di DaSK PKMK FK – KMK UGM untuk menyusun penelitian kebijakan. Narasumber untuk pelatihan tahap II, hari ke-2 ini adalah Indri Dwi Apriliyanti, SIP, MBA, Ph.D – Dosen Manajemen dan Kebijakan Publik, FISIPOL UGM. Pelatihan dimoderatori oleh Tri Muhartini, MPA dan dibuka dengan pemutaran video tentang review materi hari sebelumnya.

Research in Public Health Policy
Sesi 1: Strategi Tinjauan Pustaka

Indri Dwi Apriliyanti, SIP, MBA, Ph.D

indriPada sesi 1, Indri menjelaskan bagaimana menemukan teori yang tepat dalam penelitian. Teori merupakan suatu penjelasan yang membantu peneliti memahami fenomena yang ingin dia teliti. Berbeda dengan preposisi yang merupakan hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain, teori bisa digunakan sebagai panduan dalam memahami hubungan antar variabel tersebut. Teori yang dipilih adalah teori yang memiliki kemampuan explanatory yang paling baik tentang hal yang akan diteliti. Manfaat teori ada 2; membantu memahami aspek apa saja dari fenomena yang ingin diteliti sehingga dapat membantu dalam proses pengambilan data; dan membantu memahami data yang didapatkan sehingga dapat dipelajari bagaimana hubungan antar variabelnya.

Lebih lanjut, narasumber memberikan contoh, kenapa perempuan di negara berkembang enggan mengakses fasilitas layanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah? Ketika kita tidak dibekali dengan teori, kita bisa menjawab karena akses atau motivasi. Berbeda dengan ketika kita menggunakan teori. Sebagai contoh jika kita menggunakan Health Belief Model (HBM) theory, yakni teori yang dibangun untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku kesehatan, terutama tentang persepsi individu yang mengarahkan individu untuk mencari fasilitas layanan kesehatan.

Teori ini akan membantu memahami bahwa persepsi individu tentang masalah kesehatan, keuntungan dan hambatan menggunakan fasilitas kesehatan, dan self-efficacy merupakan hal-hal yang mempengaruhi keengganan atau ketidakengganan sesorang dalam mencari fasilitas layanan kesehatan. Ini merupakan preposisi dari teori HBM. “Dengan mengetahui teori ini, saya jadi tahu, mana aspek data yang bisa saya dapatkan, mana aspek data yang paling menguntungkan.” tambahnya.

Narasumber melanjutkan tentang bagaimana membangun kerangka tori. Setelah topik ditentukan, maka perlu ditentukan pertanyaan penelitian atau aspek mana yang akan dilakukan penelitian. Dari situ bisa ditentukan kata kunci dan dengan bekal kata kunci ini bisa digunakan untuk mencari literatur untuk direview. Tidak semua artikel yang ditemukan harus dibaca, kita pilih yang paling sesuai dengan pertanyaan penelitian, yang credible, yang publikasinya lama dan baru untuk bisa melihat perubahan pola evolusi yang diteliti, misalnya perubahan paradigma.

Jika waktu terbatas, maka cukup baca jurnal-jurnal terbaru, misal 10 tahun terakhir atau 5 tahun terakhir. Kemudian setelah dibaca, dibuat tabel untuk merangkum poin-poin penting dalam jurnal-jurnal tersebut. Setelah menetukan variabel dan me-list semua teori, kemudian lihat teori mana yang memiliki explanatory power yang paling baik. Kemudian sitasi artikel yang relevan untuk membangun argumen yang kuat dalam menjelaskan fenomena dan untuk menunjukkan bahwa teori ini pernah digunakan pada penelitian sebelumnya pada topik yang sama.

Selanjutnya, narasumber menjelaskan tentang bagaimana cara menulis kerangka teori. Pertama adalah dengan menjelaskan preposisi. Yang kedua, menjelaskan mengapa teori (yang dipilih) relevan dengan topik yang dikaji. Dan yang ketiga memaparkan penelitan-penelitian sebelumnya yang menggunakan teori yang sama pada topik yang serupa dengan penelitian kita untuk meyakinkan pembaca.

Checklist yang perlu dipahami dalam membangun kerangka teori diantaranya (1) konsep kunci sudah dijelaskan, (2) hubungan antar konsep sudah dijelaskan, (3) teori dan model yang paling relevan telah dievaluasi, (4) teori dan model yang dipilih tersebut telah dijustifikasi, (5) hubungan antara teori dan penelitian jelas, (6) kerangka teori memiliki struktur yang logis, dan (7) sumber-sumber penulisan telah disitasi. Selain itu, perlu dijelaskan urgency of the study. Misal, peneliti menulis tentang cervical cancer pada perempuan imigran dari negara berkembang. Topik ini kemudian dikaitkan dengan global health problem, angka kematian yang tinggi, dan keengganan para perempuan imigran dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan.

Kemudian narasumber menjelaskan tentang penggunaan teori. Teori meliputi beberapa konsep yang menjelaskan perilaku seseorang. Diantaranya, keyakinan seseorang akan mendapat penyakit, persepsi tentang keparahan penyakit, persepsi tentang keuntungan menggunakan fasilitas layanan kesehatan untuk menurunkan keparahan penyakit, dan persepsi tentang hambatan dalam mencari layanan kesehatan seperti biaya, efek samping, dan ketidaknyamanan. Ketika persepsi tentang hambatan lebih besar daripada keuntungan dalam mengakses layanan fasilitas kesehatan, maka perilaku akan cenderung merasa enggan untuk menggunakan fasilitas kesehatan.

Dengan kata lain, persepsi ini menentukan perilaku masyarakat dalam memilih untuk menggunakan fasilitas kesehatan. Jika dalam proses penelitian tidak dapat menemukan teori yang tepat, maka bisa menggunakan conceptual framework. Beberapa konsep yang bisa digunakan antara lain social capital, political economy, knowledge utilization, dan health equity.

Sesi 2: Memahami Metode Penelitian Kualitatif

indri2Di sesi kedua, Indri menjelaskan tentang pentingnya metode kualitatif dalam penelitian. Menurutnya, metode kuantitatif menyediakan informasi penting mengenai penyebab, hubungan antar variable, dan masalah-masalah kesehatan di level populasi. Akan tetapi, masalah-masalah kesehatan masyarakat itu kompleks sehingga penggunaan metode kuantitatif saja tidak cukup untuk mendukung para pembuat kebijakan dalam membuat keputusan yang beradasarkan bukti-bukti.

Dengan mengetahui bahwa faktor konteks mempengaruhi kesuksesan sebuah kebijakan kesehatan, bahwa isu yang berkembang sangat dipengaruhi oleh konteks, maka penggunaan metode kualitatif menjadi penting, yakni untuk menggali lebih dalam mengenai sebuah fenomena. Metode ini dapat membantu mendapatkan temuan yang kompleks dan detail.

Narasumber memberikan contoh, misalnya jika ingin meneliti mengapa laki-laki dan perempuan melakukan unprotected sexual intercourse padahal mereka memahami bahwa hal itu dapat mengarahkan ke penyakit menular seksual. Disini, kita ingin mengetahui mengapa perilaku itu muncul dan apa faktor yang mempengaruhi mengapa perilaku itu mucul. Selain itu, kita juga perlu melihat peraturan pemerintah, linkungan sosial, budaya, dan norma agama. Dengan penelitian kualitatif kita bisa menggali fenomena tersebut secara lebih dalam, kompleks, dan detail.

Hal ini penting dalam area public health karena adanya perubahan paradigma. Dulu fokusnya pada perilaku individu, sekarang berubah bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh lingkungan dan komunitas dimana si individu ini berada. Misalnya, bagaimana membuat persoalan kanker serviks menjadi sesuatu yang tidak tabu sehingga akhirnya nanti masyarakat bersedia mengakses fasyankes untuk mendapatkan pelayanan tentang kanker serviks. Selain itu, salah satu karakteristik penelitian kualitatif yaitu dapat memahami fenomena tertentu melalui kacamata si individu yang menjalani pengalaman itu atau melalui responden yang merupakan kelompok sasaran dari kebijakan yang ada. Dengan kata lain, metode kualitatif dapat melihat dari sudut pandang yang tidak dapat dilihat dengan metode kuantitatif.

Ada 4 macam penelitian kualitatif. Pertama, contextual/descriptive/exploratory yaitu dengan mendiskripsikan bagaimana sebuah fenomena terbentuk. Jika ingin meneliti topik yang belum pernah diteliti sebelumnya, artinya topik ini masih dalam tahap explanatory, disini kita bisa memetakan dan mengidentifikasi variable. Kedua explanatory, tentang mengapa sebuah fenomena terjadi, apa hal-hal yang membuat fenomena tersebut terjadi. Pada penelitian explanatory kita melihat mana variabel yang paling kuat/ dominan dan melihat hubungan antar variabel. Ketiga adalah evaluative yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah yang sudah diimplementasikan. Keempat adalah generative, yang fokusnya adalah menghasilkan ide-ide baru, baik sebagai kontribusi dalam pengembangan teori sosial atau sebagai perbaikan atau stimulus sebuah solusi kebijakan.

Setelah menjelaskan jenis-jenis penelitian kualitatif, narasumber menjelaskan tentang metode pengumpulan data. Pertama observational methods yaitu dengan melihat langsung responden atau bahkan tinggal bersama mereka. Kedua in-depth interviewing, ini kadang perlu dilakukan berkali-kali. Ketiga group discussions, seperti Focus Group Discussion (FGD). Disini peneliti memberikan kesempatan kepada responden untuk bertukar pikir. Namun, metode ini akan sulit dilakukan pada topik-topik sensitif. Selain itu, ada juga metode narratives (news media, archives) dan the analysis of documentary evidence.

Aspek yang perlu diperhartikan dalam penelitan kualitatif diantaranya justifikasi konteks, kriteria sampel, dan justifikasi pemilihan sampel. Dalam pemilihan sampel, semakin beragam key players-nya maka data akan semakin beragam. Sampai seberapa jauh pengumpulan sampelnya? Sampai tercapai saturasi atau sampai tidak ditemukan data baru lagi dalam sampel tersebut. Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meminimalisir bias diantaranya dengan mewawancarai lebih dari 1 orang. Kemudian kita lihat apakah informasinya sama, apakah ada kesamaan pola. Jika terdapat ketidaksamaan atau bahkan ada perbedaan yang contrast antar responden, maka perlu dilakukan crosscheck ke pihak lainnya.

Selain itu, kita bisa mengirimkan data yang sudah dikumpulkan dan disajikan kepada responden agar responden me-review dan mengkonfirmasi bahwa yang diampaikan adalah benar dan sesuai antara pemahaman peneliti dan responden. Selanjutnya adalah dengan triangulasi data. Kita tidak hanya mengandalkan data interview, tetapi juga dari arsip pemerintah, berita media masa, laporan dari beragam kelompok (seperti pemerintah, NGO), dll. Penyajian data dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, data dari observasi dapat ditampilkan dengan memasukkan diary peneliti saat melakukan observasi. Data interview bisa dibentuk box. Data FGD dibuat tabel. Analisis diskursus (dari buku, laporan pemerintah, pamlet pemerintah) dengan pengutipan. Diskursus merupakan diskusi yang dilakukan oleh publik secara luas, sehingga ini bisa ditemukan di sosial media.

Pelatihan ditutup oleh moderator dengan membacakan kesimpulan pelatihan. Pelatihan tahap 3 yaitu analisis kebijakan untuk topik KIA dan Gizi akan dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa, 19 dan 20 Oktober 2020.

tanggal : 06/10/2020
reporter : Widy Hidayah
kak terkait : KAK Kebijakan Kesehatan, https://kebijakankesehatanindonesia.net/4192-tahap-ii-pelatihan-penulisan-penelitian-kebijakan-kesehatan-berbasis-data-sekunder-di-dask, _blank
kata kunci : KIA, gizi, DaSK, pelatihan, kebijakan