Reportase Webinar Surge-3 Surge Capacity: Logistik Rabu, 1 April 2020

Reportase
covid-19, coronavirus, insulation station

Reportase Webinar Surge Capacity: Logistik Rabu, 1 April 2020

Webinar kali ini merupakan lanjutan diskusi surge capacity yang diselenggarakan oleh PKMK FK – KMK UGM. Kali ini diskusi membahas tentang surge dan analisis, peluang dan strategi kebutuhan logistik dalam mengahadapi pandemi COVID-19. Narasumber kesempatan ini sebuah Gerakan bernama Sambatan Orang Jogja atau disingkat “SONJO”.

Ni Luh Putu Andayani, M.Kes membuka diskusi menyampaikan adanya pandemi banyak negara kewalahan, karena tiba – tiba banyak pasien harus dirawat. Negara maju sekalipun belum siap dengan adanya pandemi.  Harus dilakukan antisipasi, puncak pandemi DIY diperkirakan berlangsung pada pertengahan April atau akhir April. Harus dilakukan skenario penanganan lonjakan pasien ditambah lagi dengan adanya budaya mudik dari daerah banyak terdapat kasus COVID-19. Harus dipertimbangkan bagaimana dengan logistiknya.

Narasumber dari SONJO yang pertama DR Rimawan menyampaikan bahwa kondisi sekarang adalah krisis, dan yang dilakukan adalah defensive battle. SONJO menggunakan skenario yang ketiga, yaitu the worst. Dibutuhkan rumah sakit darurat untuk pasien PDP maupun pasien positif. Tenaga medis juga harus diperhatikan tempat tinggalnya. Lonjakan pasti akan terjadi, terutama dengan adanya budaya  mudik. Diperhitungkan penurunannnya sekitar 4 bulan dari sekarang, SONJO harus bertahan selama 4 bulan tersebut.   Harus menyiapkan logistik apapun yg dibutuhkan, bahkan alat kesehatan (alkes) yang mungkin akan mengalami kekurangan. Maka SONJO memikirkan berbagai aspek logistik, dan merangkul berbagai Fakultas MIPA dan Teknik untuk mengatasi masalah alkes yang banyak menemui kesulitan

Gumilang Aryo Sahade menyatakan, dari analisis yang dibuat SONJO adalah konteks nasional, selanjutnya pada konteks daerah. Dengan  gambaran pemerintah melakukan intervensi ke daerah. Kebijakan ekonomi bisa dilakukan untuk intervensi permasalahan yang ada. Bantuan langsung tunai bisa menjadi polemik, karena sasarannya masyarakat yang miskin dan bisa juga salah sasaran, untuk masyarakat menengah bagaimana?.  Kita menghitung estimasi biaya yang dibutuhkan daerah apabila nanti ada peningkatan PDP ODP maupun pasien positif. Namun belum bisa diketahui biaya yang dikeluarkan untuk per satu PDP, ODP dan pasien positif.

Ika mengatakan bahwa di BPBD DIY sempat menumpuk alat pelindung diri (APD), handsanitizer, rapidtest. Terjadi kebingungan untuk pendistribusiannya, faktanya banyak rumah sakit yang kekurangan APD. Akhirnya SONJO mengumpulkan data di lapangan mengenai kebutuhan APD. Dinkes harus pro aktif dan kita membantu, saat ini APD dan rapidtest sudah diambil oleh dinkes, dan akan dikelola oleh dinkes.

Beberapa langkah yang diambil diantaraya: mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan tempat tinggal untuk tenaga kesehatan yaitu rumah dinas dekan disiapkan untuk tempat tinggal tenaga kesehatan. Menciptakan berbagai alat,misalnya electronic nose, pembuatan APD, dan pembuatan bed pasien dengan cover, dan lainnya.  SONJO bidang pangan, sudah ada food delivery. Ada juga desa tanggap COVID-19 bisa menjadi model, tidak hanya lock down desa, namun sampai pada record ODP PDP. Rumah sakit yang membutuhkan  logistik bisa menghubungi dinkes juga bisa lewat SONJO dan akan dikomunikasikan. Sudah ada ribuan liter handsanitizer yang dibuat oleh Fakultas Farmasi yang dibagikan ke fasilitas kesehatan secara gratis.

Awi perwakilan dari SONJO juga menyampaikan adanya permasalahan di level teknis dan mempersiapkan masyarakatnya. Dinas kesehatan sudah mendata kebutuhannya. Namun, saat ini belum bisa terpenuhi. Dari sisi masyarakat, yang belum ada ialah protokol edukasi komunikasi yang jelas, karena masyarakat beragam. Kondisi masyarakat dengan sumber pangan dan tabungan tidak stabil, perlu menjadi perhatian besar sehingga dibentuklah SONJO pangan. Pemerintah harus bisa mengontrol kondisi ini agar tidak terjadi konflik horizontal.  SONJO sudah mempunyai aktivitas untuk mengkoordiir terkait pangan dan logistik agar tidak terjadi chaos. Semua unsur agar tidak bergerak sendiri dan bisa efektif. Koordinasi terhadap supply dan demand. Bisa bekerjasama dan saling menguatkan. Bisa berkembang tidak hanya pangan, namun juga data, inovasi, dan lain – lain. Diharapkan bisa membantu untuk kebutuhkan penanganan pandemi COVID-19.  Harapanya, apabila dibutuhkan logistik non medis bisa difasilitasi oleh SONJO. Terjadi kolaborasi antar pihak, misalnya dalam pengadaan handsanitizer, ada yang menyumbang botol, alkohol dan pengantaran.

Laksono Trisnantoro (HPM UGM) menegaskan bahwa SONJO sebagai katalisator, kebutuhkan logistik sangat banyak. Bisa menjadi isu kunci, mana yang disediakan pemerintah dan mana yang masyarakat bisa menyediakan. Sekarang APD disebarkan oleh pemerintah namun distribusi menjadi masalah. Hotel UC UGM akan mengkoordinir terkait dengan tempat tinggal, makanan untuk tenaga kesehatan. Mengenai prioritas distribusi harus ada komando yang jelas, apalagi ini masalah logistik. Apakah database SONJO bisa disandingkan dengan data Satgas COVID-19 DIY?  Karena Satgas DIY berasal dari pemerintah.

dr Darwito (RSUP dr Sardjito) menambahkan, prinsipnya harus tetap kolaborasi. SONJO dan Persi tidak bisa berjalan sendiri. Data yang masuk dari rumah sakit adalah menggambarkan kebutuhkan rumah sakit. Dengan partisipasi masyarakat sangat penting untuk mengahadapi pandemi COVID-19. Bisa  dilakukan kolaborasi untuk kebutuhan logistik rumah sakit.

Luluk Lusiantoro menyatakan bahwa koordinasi dan leadership menjadi kunci. Kita bergerak bisa sendiri tidak harus menunggu pemerintah. Logistik ada dari pemerintah juga ada dari masyarakat. Sebaiknya semua barang bantuan tersebut dijadikan satu tempat, dan diidentifikasi  barang medis maupun non medis. Juga data dari berbagai pihak bisa dijadikan satu. Harus ada leader untuk distribusi.

Apabila ada donator dengan skala besar seperti apa juknisnya?  Akan segera koordinasi dengan dinas sosial dan dinas kesehatan untuk bisa mendistribusikan logistic yang telah ada. Harus ada pemetaan dan komando yang jelas untuk pendistribusian logistik, agar tepat pendistribusiannya. Data kasus yang ada di rumah sakit diterjemahkan oleh gugus tugas menjadi data kebutuhan. Leadership, satgas harus dihidupkan  agar distribusi bisa dilakukan dengan baik. Diharapkan ada papan virtual mengenai supply dan demand logistik agar bisa cepat penyalurannya namun dengan aturan.

Laksono menambahkan bahwa persiapan lonjakan ini adalah satu komponen yang rumit. Banyak pemikiran terkait lonjakan, dan dibuat skenario, siapa yang menjadi komandannya. Bisa juga pemetaan  berbasis website agar semua orang bisa dapat memantau.

Ada banyak donasi namun masih membutuhkan kejelasan aturan mainnya agar distribusi bisa dilakukan dengan tepat, dibutuhkan pemetaan dan distribusi juga pada transportasinya. Perlu ada wallroom berisi informasi kebutuhan dan ketersediaan logistik. Kolaboraasi data harus dilakukan agar bisa dilakukan pemetaan. Sonjo merupakan kearifan lokal yang ada di Jogja dan bisa direplikasi oleh daerah lain. kepemimpinan menjadi kunci untuk penanganan COVID-19 khususnya terkait dengan logistik.

tanggal : 01/03/2020
reporter : Huniawan Prasetyo (PKMK UGM)
kak terkait :
kata kunci : Surge capacity, logistik, covid-19